•  
  • Selamat Datang Di Website Politeknik Trisila Dharma Tegal
Senin, 03 April 2017 - 09:17:24 WIB
Kontribusi Jurnal Internasional Indonesia Rendah
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita - Dibaca: 1777 kali

Kontribusi Jurnal Internasional Indonesia Rendah
Kontribusi Jurnal ilmiah Indonesia di kancah internasional sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lainnya. Dari II negara di Asia posisi Indonesia berada di bawah Sinagpura, Malaysia,Thailand bahkan Pakistan.
Dari tahun 1999 hingga tahun 2015 lalu tercacat hanya 6,280 jurnal ilmiyah beradar dari Indonesia. jumlah ini jauh di bawah Pakistan 10,982. Untuk posisi teratas di tempati Tiongkok (China) dengan 416,409, India 123,206, Jepang 109,305, Korea Selatan 73,433, Taiwan 34,011, Malaysia 23,414, Singapura 17,976, Hongkong 14,710,dan Thailand 11,632.
Demikian disampaikan Sutarmin SSi MM dalam workshop Internasional Journal Publication 21 sampai 22 Maret di auditorium Darijoen Senoatmojo UPS Tegal.
"Posisi kita (Indonesia) masih jauh dari negara lain bahkan dengan negara di asia tenggara," kata Sutarmin.
Menurutnya, jika dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang berada di peringkat empat dunia yakni 255.705.755 kontribusi Indonesia sangat rendah. Sementara jika dilihat dari jumlah perguruan tinggi yang berjumlah 4500 dengan 6820 artikel, maka hanya satu perguruan tinggi hanya menyumbang 1,4 artikel.
"Begitu juga jika dilihat dari jumlah dosen 262.660 maka kontribusi hanya 0,024 atau dua artikel perseratus orang dosen, itupun didominasi perguruan tinggi besar," ungkap Sutarmin.
Padahal menurutnya, meningkatkan publikasi internasional sudah banyak dilakukan diantaranya, memberikan insentif bagi para peneliti yang berhasil mempublikasikan jurnal internasional.
"Pemberian intensif ini sesuai dengan aturan permen Tahun 2017 Tentang pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor," tambah Sutarmin.
sedangkan agar jurnal atau artikel bisa diterima di tingkat internasional harus memenuhi antar lain, harus menjadi minat internasional,bukan hanya kepentingan lokal,dan keuniversalan ilmu yang ditulis. "Poin-poin ini harus ada dalam setiap artikel  yang ditulis," tandas Sutarmin.
Menyinggung soal kesulitan penulisan jurnal Internasional, Sutarmin menilai, kesulitan terletak pada penguasan bahasa asing sedangkan bagian artikel yang paling sulit dikerjakan adalah Abstrak dan komponen IMRAD atau Introduction, Method, results and discussion.

 "Inilah yang sering mengganjal para dosen susah menembus jurnal Internasional seperti scopus, thomson reuter atau ISI WOS," jelas Sutarmin. (Humas)
 



    0 Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)