•  
  • Selamat Datang Di Website Politeknik Trisila Dharma Tegal
Selasa, 03 Desember 2019 - 19:46:17 WIB
DOGMATIK PENDIDIKAN DI INDONESIA
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita - Dibaca: 326 kali

Oleh : Prayitno,.SE,.M.M

Dosen: Politeknik Trisila Dharma Tegal dan Mahasiswa Program Doktor Unissula Semarang

Perubahan sedang terjadi dibidang pendidikan, langkah pertama yang dilakukan oleh pihak pemerintah dalam hal ini presiden Joko Widodo mengangkat Nadiem Makarim sebagai mentri pendidikan dan kebudayaan, langkah presiden dianggap tidak biasa dan oleh beberapa pengamat pendidikan maupun profesor dianggap gegabah sebab latar belakang mentri pendidikan berasal dari praktisi bukan berasal dari akademisi seperti yang sudah umum terjadi selama ini. Track record pendidikan Nadiem Makarim yang belum menjadi Professor menjadi pelengkap pembahasan di grup media sosial yang intinya meragukan kemampuanya untuk memimpin sebuah lembaga yang penuh dengan segudang Professor didalamnya. Selama hampir 74 tahun Mentri Pendidikan dijabat oleh seseorang yang berlatar belakang akademisi seolah olah seperti dogmatik, sehingga diangkatnya mentri pendidikan dan kebudayaan berlatar belakang dari non akademisi dianggap suatu kesalahan fatal. Dogmatik menurut kamus bahasa Indonesia adalah hal ihwal ajaran serta keyakinan atau kepercayaan yang tidak boleh dipersoalkan (harus diterima sebagai kebenaran).

Perubahan ini tentunya sudah melalui pertimbangan ? pertimbangan disesuikan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pihak pemerintah. Faktor utama pemicu perubahan dalam bidang pendidikan adalah efek dari revolusi industri 4.0 dimana semua bidang berubah dengan cepat namun bidang pendidikan sendiri yang seharusnya mampu pertama kali berubah hal itu tidak terjadi. Efek yang ditimbulkan dari keterlambatan perubahan bidang pendidikan adalah semakin banyaknya lulusan yang menganngur karena ilmu yang dipelajari telah tertinggal jauh dengan dunia kerja. Pendidikan menjadi hanya rutinitas keseharian untuk memperoleh ijasah tanpa ada nilai tambah apa yang didapat selama di bangku pendidikan sedangkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan keinginan siswa/ mahasiswa mereka peroleh sediri dari media sosial.

Tantangan terberat dihadapi oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan saat ini bukan bagaimana pendidikan indonesia maju tetapi bagaimana merubah pandangan dogmatik dari internal pendidikan itu sendiri, sebab yang dihadapi merupakan pakar ?pakar pendidikan yang secara logika telah memiliki pandangan mapan. Menjadi masuk akal alasan pemerintah untuk mengangkat mentri pendidikan dan kebudayaan dari kalangan non akademisi didasarkan pada sifat Revolusi Industri 4.0 yaitu Disruptive (pengganggu) dalam arti ide yang baru akan mengganggu ide yang telah mapan. Mengajak para pakar pendidikan yang telah memiliki pandangan mapan sama halnya mengajak seseorang yang memiliki pandangan dogmatik, maka cara yang dapat ditempuh adalah dengan proses tiga tahap seperti dalam teori Lewin K (1947). Proses perubahan didasarkan pada tiga proses unfreezing atau cair, perubahan diidentifikasi atau move dan refreezing atau beku.

Tahap pertama unfreezing atau cair, pada tahap ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan harus sering melakukan pertemuan untuk berkomunikasi dengan pihak ? pihak memiliki pandangan dogmatik tujuanya adalah bagaimana agar merubah mind set yang telah usang sehingga perlu dilakukanya pebaharuan dalam berpikir, frekwensi komunikasi yang sering secara tidak sadar akan menciptakan sebuah gaya hidup. Tahap kedua adalah perubahan diidentifikasi, setelah komunikasi dilakukan seseorang yang berpandangan dogmatik dalam masa transisi dan mengalami kebingungan antara pandangan yang selama ini dipertahankan atau beralih pada pandangan yang baru dari hasil komunikasi maka pada posisi ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan harus terus memberi pandangan secara positif apa tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah. Pada tahap terakhir refreezing atau beku seorang yang memiliki pandangan dogmatik akan mampu membedakan dan diharapkan akan mendukung langkah ? langkah yang diambil pemerintah untuk memperbaiki pendidikan dengan mengangkat mentri pendidikan dan kebudayaan dari non akademik tujuannya hanya satu, pendidikan Indonesia sejajar dengan negara maju.



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)