•  
  • Selamat Datang Di Website Politeknik Trisila Dharma Tegal
Rabu, 25 Maret 2020 - 14:55:33 WIB
DAMPAK COVID-19 TERHADAP EKONOMI DI SELURUH DUNIA
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita - Dibaca: 154 kali

Tingkat stress Dunia semakin meningkat sejak kemunculan virus baru di Provinsi Hubei, Wuhan,  Cina.  Virus tersebut sekarang dikenal sebagai SARS-CoV-2, yang menyebabkan penyakit COVID-19, WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. WHO merilis bahwa menyeimbangkan kepastian coronavirus (SARS-CoV-2) pasti akan menyebar ke seluruh penjuru dunia, dengan pengamatan bahwa pemerintah, bisnis, dan individu masih memiliki kemampuan substansial untuk mengubah lintasan jalur penyebaran penyakit. Berbagai komentar tentang virus ini menyebar melalui media sosial, media main strem tanpa kontrol ynag jelas dan dari tidak diketahui dari berbagai latar belakang pengalaman dan keilmuan yang tidak terkonfirmasi.

Keputusan dari berbagai pemimpin di dunia bercabang antara keputusan politik dan ekonomi, tidak terkecuali Indonesia sendiri. Keputusan politik diambil dengan alasan menyelamatkan warga negaranya dari ancaman pandemi virus SARS-CoV-2 namun bertentangan dengan keputusan ekonomi apabila mengambil tindakan keputusan politik berdampak pada biaya ekonomi yang tinggi terhadap sekala sektor yang berhubungan. Dampak yang paling besar terhadap sektor ekonomi secara langsung dapat dirasakan pada industri pariwisata, industri transportasi, industri perhotelan dan industri jasalainya. Namun, dampak yang ditimbulkan dari COVID-19 tak dapat di hindari, di seluruh dunia lebih dari 160.000 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dan lebih dari 6.000 kematian akibat penyakit ini. Orang yang lebih tua, khususnya, beresiko terkena,  tingkat kematian bagi pasien berumur 80 tahun dan lebih tua adalah tujuh kali rata-rata, dan tiga hingga empat kali rata-rata untuk pasien di usia 70-an. Laporan lain menggambarkan tingkat kematian bagi orang di bawah 40 menjadi 0,2 persen.

Banyak negara sekarang menghadapi kebutuhan untuk mengendalikan penyebaran virus corona secara luas oleh masyarakat. Tiga model/arketipe untuk mencegah penyebaran virus; pertama Tindakan luar biasa untuk membatasi penyebaran, kedua Kontrol bertahap melalui penggunaan praktik terbaik kesehatan publik yang efektif dan ketiga Kontrol awal yang gagal, menyebabkan sistem kesehatan yang kewalahan. Model pertama dan kedua berhasil diterapkan oleh negara Cina , Korea Selatan, Singapura dan Taiwan tampaknya telah menerapkan pendekatan serupa, juga dengan hasil yang secara luas berhasil tetapi model ketiga gagal sebab petugas layanan kesehatan dan kurangnya fleksibilitas dalam sistem menciptakan lingkaran setan yang membuatnya lebih sulit untuk mengendalikan epidemi.

Perusahaan harus memecahkan tantangan menanggapiCOVID-19 agar tetap bertahan sebab; Memiliki pemahaman intelektual tidak sama dengan menginternalisasi kenyataan, Keselamatan karyawan adalah yang terpenting, tetapi mekanismenya tidak efektif, Optimisme tentang kembalinya permintaan berbahaya, Asumsi di seluruh perusahaan tidak selaras dan Jangka dekat sangat penting, tetapi jangan kehilangan fokus pada jangka panjang (yang mungkin lebih buruk). Maka, seorang menejer harus siap dengan tiga kemungkinan yang akan terjadi; pertama, Pemulihan cepat, apabila ini terjadi disebabkan karena jumlah kasus terus bertambah, mengingat penularan virus yang tinggi maka tak terhindarkan menyebabkan reaksi publik yang kuat dan penurunan permintaan, kedua, Perlambatan global, Skenario ini mengasumsikan bahwa sebagian besar negara tidak dapat mencapai kontrol cepat atas penyebaran virus sehingga harus mengambil tindakan pencegahan seperti social distancing atau lockdown. Di Eropa dan Amerika Serikat, penularannya tinggi tetapi masih terlokalisasi, sebagian karena individu, perusahaan, dan pemerintah mengambil tindakan pencegahan yang kuat (termasuk penutupan sekolah dan pembatalan acara-acara publik). Untuk Amerika Serikat, skenario mengasumsikan antara 10.000 dan 500.000 total kasus. Ini mengasumsikan satu pusat gempa besar dengan 40 hingga 50 persen dari semua kasus, dua atau tiga pusat lebih kecil dengan 10 hingga 15 persen dari semua kasus, dan "ekor panjang" kota-kota dengan segelintir atau beberapa lusin kasus. Skenario ini melihat beberapa penyebaran di Afrika, India, dan daerah berpenduduk padat lainnya, tetapi penularan virus menurun secara alami dengan musim semi di belahan bumi utara. Ketiga, Pandemi dan resesi,Skenario ini mirip dengan perlambatan global, Pertumbuhan kasus terus berlanjut, berpotensi sistem kesehatan yang luar biasa di seluruh dunia. Skenario ini menghasilkan resesi, dengan pertumbuhan global pada tahun 2020 turun antara –1,5 persen dan 0,5 persen.

Untuk mengantisipsi kejadian tersebut maka perusahaan harus melakukan tindakan – tindakan sebagai berikut; Lindungi karyawan Anda, Menyiapkan tim respons lintas fungsi COVID-19, Pastikan likuiditas cukup untuk mengatasi badai, Stabilkan rantai pasokan, Tetap dekat dengan pelanggan Anda, Praktekkan rencananya, dan Tunjukkan tujuan. Apabila penyebaran virus terjadi secara terus menerus makan akan mendorong penurunan 0,3 hingga 0,7 persentase poin dalam pertumbuhan PDB global untuk tahun 2020. Permintaan yang lebih rendah dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global antara 1,8 persen dan 2,2 persen, bukannya 2,5 persen yang dibayangkan pada awal tahun.

 

Tulisan ini merupakan ekstrasi Tim Politeknik Trisila Dharma dari laporan McKinsey per Maret (Matt Craven, Linda Liu, Matt Wilson 2020)

McKinsey_Website_Accessibility@mckinsey.com



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)