•  
  • Selamat Datang Di Website Politeknik Trisila Dharma Tegal
Kamis, 11 Juni 2020 - 12:12:04 WIB
SIMPANG JALAN ENTREPRENEURSHIP VS REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DI TENGAH COVID-19
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita - Dibaca: 201 kali

Oleh: Prayitno,.SE,.MM

Kondisi lingkungan yang tidak menemui kepastian yang disebabkan oleh Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu. Banyak orang terinfeksi virus ini, setidaknya satu kali dalam hidupnya. COVID-19 atau dikenal juga dengan Novel Coronavirus (menyebabkan wabah pneumonia di kota Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019, dan menyebar ke negara lainnya mulai Januari 2020. Indonesia sendiri mengumumkan adanya kasus covid 19 dari Maret 2020 (www.halodoc.com).

Dampak adanya COVID-19, khususnya di Indonesia sejak Maret 2020 melumpuhkan sendi sendi kehidupan terutama sektor perekonomian, usaha Mikro kecil dan Menengah (UMKM) adalah efek terparah. Namun, dengan adanya COVID-19 seluruh negara mengalami kebingungan menentukan kemana negara yang mereka pimpin menyelamatkan masyarakatnya dari bahaya pengangguran dan resesi ekonomi walupun kajian – kajian yang dilakukan oleh badan keuangan dunia (IMF), Bank Dunia maupun Para pakar Professor Universitas tingakat global dalam tiga tahun kedepan diperkirakan PDB global lebih rendah sebesar 3% pada tahun 2020 (WEF,2020) sementara setiap negara telah memproyeksikan visi misi nya hingga tahun 2030 seperti Millenium Development Goals (MDGs), Pembangunan Milenium atau Millennium Developments Goals (MDGs) merupakan sebuah Deklarasi Milenium yang merupakan hasil dari kesepakatan para kepala negara serta perwakilan 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). MDGs ini sudah mulai dijalankan dari bulan September tahun 2000 dan Sustainable Development Goals, Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. SDGs berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. Dasar inisiasi program tersebut merupakan perkembangan Revolusi Industri 4.0. Namun, tiap negara lupa bahwa sifat dari Revolusi Industri 4.0. yaitu disruption: "inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru". Tahun 2020 menjadi masa kelam program Revolusi Industri 4.0, MDGs dan SDGs karena COVID-19 hadir sebagai disruption.

Bak dipersimpang jalan negara harus memilih meneruskan program Revolusi Industri 4.0. yang prestisius atau menata ekonomi untuk menyelamatkan masyarakatnya. Jika ingin menyelamatkan masyaraktnya maka langkah ekonomi yang harus diambil dan ekonomi sebagai penompang masyarakat yang paling utama adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) karena sudah terbukti pada krisis 1998 ekonomi Indonesia yang paling kuat adalah sektor ini. UMKM dan Revolusi Industri 4.0. merupakan dua kutub yang berbeda dan saling tarik menarik. UMKM menekankan pada kemandirian, berpikir dan bertindak dengan kebebasan personal hal ini sesuai dengan prinsip kewirausahaan/ Entrepreneurship yang tidak mau diatur oleh orang lain sedangkan Revolusi Industri 4.0. menekankan pada out-put tenaga kerja yang siap pake untuk menunjang industri, secara kasar revolusi industri menciptakan tenaga kerja/ kelas pekerja sedangkan kewirausahaan menciptakan kelas pengusaha yang mandiri. Dengan beberapa pertimbangan secara geografis, budaya, pendidikan dan ekonomi maka Indonesia seharusnya mengarah pada pengembangan Entrepreneurship yang kuat untuk menghindari resesi. Sebab, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memainkan peran utama di sebagian besar ekonomi, terutama di negara-negara berkembang. Akun UMKM untuk sebagian besar bisnis di seluruh dunia dan merupakan kontributor penting untuk penciptaan lapangan kerja dan pengembangan ekonomi global. Mereka mewakili sekitar 90% bisnis dan lebih dari 50% lapangan kerja di seluruh dunia. UMKM formal berkontribusi hingga 40% dari pendapatan nasional (PDB) di negara-negara berkembang.  . International Finance Corporation (IFC) memperkirakan bahwa 65 juta perusahaan, atau 40% dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) formal di negara-negara berkembang, memiliki kebutuhan pembiayaan yang tidak terpenuhi sebesar $ 5,2 triliun setiap tahun, yang setara dengan 1,4 kali lipat dari saat ini tingkat pinjaman UMKM global. Asia Timur dan Pasifik menyumbang bagian terbesar (46%) dari total kesenjangan keuangan global dan diikuti oleh Amerika Latin dan Karibia (23%) dan Eropa dan Asia Tengah (15%) (https://www.worldbank.org/en/topic/smefinance).



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)